Tulisan ini saya dedikasikan untuk mengenang Frau Yustin.
Telah berpulang ke sisi Bapa, Frau kami tercinta, Frau Yustina Irfianti, 29 Januari 2012 pukul 22.31 WIB.
“Haccchiii!!!”
“Gesuunnddhheiittt!”
“Danke, Frau!”
Situasi di atas tidak akan pernah kami lupa. Frau tidak pernah kelewatan memberikan ‘kesehatan’ (gesundheit) setiap ada yang bersin di kelas. Kebetulan kelas saya dulu cukup penyakitan. Dari 18 anak, hanya 2-3 anak yang tidak punya tissue box di atas mejanya.
Secara pribadi saya ingin mengenang Beliau.
Tanpa Frau Yustin, mungkin saya tidak punya minat mendalam terhadap Jerman.
Tanpa Frau Yustin, mungkin saya tidak mendapat beasiswa ke Jerman saat SMA.
Tanpa Frau Yustin, mungkin saya tidak akan pernah keluar suara secara keras mengkritik gap antara guru dan murid di SMA saya dulu di depan wakil-wakil kepala sekolah.
Tanpa Frau Yustin, mungkin saya bukan apa-apa.
Frau Yustin yang suka ngomelin kami di kelas karena nakal.
Frau Yustin yang kecewa karena kami kurang bersikap welcome kepada orang Jerman yang datang untuk mengajar kami. Hey, Tatiana!
Frau Yustin yang bersemangat mempersiapkan lagu dan tari untuk persembahan di Goethe-Institut Jakarta.
Frau Yustin yang tidak pernah lupa memberikan kami semangat menghadapi ujian apa pun. “Yah, UAN Jerman mah kalian bisalah…..kleine fische!”
Dulu saat masih duduk di bangku SMA, jujur saja memang kami nakal, dan kami seperti anak kecil yang kesal dengan ibunya karena cerewet dan ngomelin. Ya itu seperti kami saat itu terhadap Frau Yustin. Beliau sangat keibuan dan sangat ingin yang terbaik bagi anak-anaknya. Beliau tidak pernah luput dengan tujuannya (sesungguhnya), hanya saja kami yang terlalu pendek melihat aksi-aksi Beliau. Begitu kami lulus, untuk saya pribadi, saya merindukan sosok Beliau!
Pernah sekali waktu Beliau memberi ucapan selamat ulang tahun lewat wall facebook :
“Meiska,meine schatzi! Die besten Glueckwunschen zu deinem schoenen Geburtstag!! Alles gute, sayang!” – 16 April 2011.
Schatzi, sayang.
Saya gak pernah bayangkan sebelumnya Beliau panggil saya begitu. Saya selama ini pikir di mata Beliau saya murid yang biasa saja tidak berkesan bahkan cenderung nakal mungkin. Tapi Beliau menunjukan kedekatannya dengan saya lewat sana dan terkadang comment-comment di facebook.
Tahun ini, 16 April 2012 tidak akan ada lagi wall dari seorang guru terbaik yang tidak pernah luput mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya (yang pasti dalam bahasa Jerman), walau kami terpisah jauh setelah saya lulus SMA.
Mengutip dari tweet teman tadi, “Anak Sanur kehilangan guru Jerman terbaik, tapi Indonesia juga kehilangan pembuat soal UAN Jerman.” Yup, she was! How great she wassssss!!
Beliau hebat! Sungguh hebat!
Bukan hanya karena kecintaannya terhadap Jerman, Beliau tetap menunjukan kecintaannya dan dedikasinya untuk negara. Beliau sempat berkesempatan pergi ke Jerman untuk urusan study dan di sana Beliau mengharumkan nama Indonesia. Beliau tunjukan betapa indahnya Indonesia, dan sungguh mendapat respon yang baik
Beliau duta persahabatan. She was great!!!

Will die Tränen weglachen,
will die Schmerzen verbergen vor Dir und mir.
Ich will Dir nichts mehr beweisen,könnte schreien,
doch ich bleib ganz stumm,vor Dir.
Unser Film ist zu Ende,das Kino ist leer.
Und ich schaue Dich an,und will gehen,
doch ist es so schwer.
So Schwer (sangat sulit), lagu ini pasti sangat diingat oleh semua anak yang pernah diajar Beliau. So schwer buat percaya Beliau tidak lagi bersama kami di dunia ini.
Selamat jalan, Ibu Guru..
Tuhan siapkan tempat terbaik bagimu. Tempat peristirahatan terindah.
Kau akan selalu kami kenang selamanya.
Aufwiedersehen, Frau Yustin! :”)

In Memoriam Frau Yustin